Wednesday, June 20, 2012

Liturgi Ibadah menurut saya

Menurut saya berdasarkan kitab perjanjian baru, wanita tidak boleh ngomong di gereja. Hal ini karena liturgi ibadah adalah suatu hubungan antara manusia dan Tuhan, dimana pria dan wanita sebagai manusia berhubungan dengan Tuhan Yesus yang sudah bangkit dari kematian.
Setelah Yesus menerima kita nanti, kita semua akan menjadi mempelai wanita. Tapi selama di dunia ini, kehadiran Yesus dilambangkan oleh seorang pria.
Ini adalah liturgis dan tidak melambangkan bahwa pria lebih baik dari wanita. Tapi seperti hukum taurat dan pengalaman orang Israel merupakan nubuatan kedatangan Tuhan, begitu juga liturgi ibadah adalah gambaran kesadaran kita akan keselamatan, bahwa dulu kita berdosa dan melalui Tuhan Yesus kita dapat memperoleh hidup.

Liturgi ibadah berlangsung serius dan teratur, dimana pengkotbah mewakili Tuhan Yesus berbicara dari Alkitab. Dia tidak boleh mewakili dirinya atau membawa egonya, perannya adalah sebagai Tuhan Yesus.
Ibadah selesai hanya dalam setengah jam sampai satu jam.

Setelah ibadah seluruh jemaat keluar dan pindah ke ruangan lain.
Di ruangan lain ini kemudian ada kegiatan komunitas, atau sharing, dimana orang membagi-bagikan lagu ciptaannya, puisi, kesaksian. Para ahli membagikan seminar, begitu juga para teolog atau ahli agama pria dan wanita mempresentasikan pandangan, pendapat, dan pengalamannya dalam menghadapi tantangan-tantangan ajaran Kristen.

Kemudian ada sesi Marketing dimana para usahawan secara bergiliran (tidak harus semua cukup 2 orang saja tapi minggu depan ganti lagi) mempresentasikan kegiatan usahanya, membawakan sampel produk, pokoknya saling membantu.

Di akhir sharing komunitas bisa makan bersama, membeli makanan dan sebagainya. Tapi seperti yang kita baca dalam injil, hal ini haruslah merupakan kegiatan yang terpisah dari rumah Tuhan.

1 comment:

Melki Hassa said...

Update, sekarang pendapatku sudah berubah, bukan setelah ibadah orang pindah ke komunitasnya sendiri-sendiri, tapi setelah hari sabat.

Wanita tidak boleh ngomong sebagai jemaat,
Sebagai pengerja ibadah wanita tidak boleh memerintah laki-laki,
Dan saat bernubuat dan berdoa wanita menudungi kepalanya sebagai tanda dia berbicara bukan dari dirinya sendiri tapi dalam kesatuan dengan tubuh Tuhan dimana dia bukan kepalanya tapi dia adalah organ.
(Seperti nanti di kerajaan-Nya hanya Tuhan Yesus yang berhak menjadi atasan kita semua makhluk-makhluk yang sederajat. Kita harus dipimpin sepenuhnya oleh Dia)

Karena Dialah kehidupan, Dialah Cinta, kalau kita menjadi hamba-Nya kita akan menuruti keinginan-Nya yaitu agar kita berkeinginan untuk terus menjadi bagian dari kehidupan.

Keinginan itu timbul tanpa dipaksa, tapi antisipasi kita akan mempengaruhi apa-apa saja yang akan kita inginkan.
Karena itu demi kita terus menginginkan untuk menjadi bagian dari kehidupan, Tuhan Yesus mau kita menuruti perintah-Nya.

Ini demi kebaikan kita karena di luar Tuhan orang tidak menginginkan untuk terus hidup selamanya, dia akan tersiksa oleh keberadaan. Walaupun dia tidur dia akan terus ada.
Karena Tuhan sumber dari keberadaan itu adalah Tuhan. Dan hasil kerjanya akan berlanjut selamanya (fractal universe).
Orang akan terus berlanjut, terlepas dari apakah dia suka atau tidak suka untuk terus berlanjut.
Jadi lebih baik taat kepada Tuhan agar kita menginginkan untuk terus berlanjut selama-lamanya.